Belezza Indrawan, Sukses dengan Kotak Kado


Kita biasanya tidak mempedulikan kertas pembungkus atau kotak kado. Apalah artinya pembungkus atau kotak kado? Yang penting kan isi hadiahnya. Tapi di mata Belezza Indrawan soal begini justru merupakan peluang bisnis. Berbekal bakat alam dan keterampilan mahirnya membuat kotak kado dari kertas daur ulang, kini Lezza meraih keuntungan di bisnis ini.

Ia begitu tekun menggeluti bisnis kotak kado dari kertas daur ulang khusus. Di dunia bisnis begini, namanya cukup terkenal sebagai pengusaha kecil pertama yang berani melakukan terobosan pemasaran produknya ke beberapa gerai galeri kotak kado di pusat perbelanjaan ternama, seperti Pasaraya Grande Blok M, Pasaraya Manggarai, Sogo Plaza Indonesia, Sogo Plaza Senayan, Sogo Kelapa Gading, Keris Gallery Menteng, Jade & Vira Cilandak Town Square, Studio Kado Stage Kemang, dan Dbest Fatmawati.

kotak_kadoDi matanya, kotak kado sangat bermakna sebagai tanda cinta dari pemberinya. Katanya, memberikan hadiah apa pun bila dikemas dengan kotak kado akan menjadi cantik, menarik, dan memiliki kesan khusus bagi yang menerima. Ia sering kesal ketika mendapat hadiah dari teman atau kawan yang dibungkus asal saja. Ia juga kecewa manakala menemukan kado bagus, tapi membungkusnya asal saja. Baginya ini soal penting. “Bagi saya pribadi, bila kita ingin menghargai orang dengan memberikan hadiah, soal pembungkus jangan dipandang sepele. Justru pembungkus atau kotak kado bisa jadi nilai tambah,” tutur ibu berusia 30 tahun ini.

Wanita yang mengaku tidak bisa membuat garis lurus dengan penggarisan ini memulai bisnis begini ketika mulai menikah dengan Yusca Indrawan pada 1997. Sebelum bersuami, tepatnya setelah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Trisakti, ia sempat mencicipi beberapa pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun, bakat alami serta kemahiran melakukan keterampilan tangan lebih memacu dirinya berbisnis sendiri. Apalagi ia lahir dari keluarga yang punya jiwa berdagang. Sejak remaja ia mengaku sudah terbiasa mendapatkan uang untuk membeli buku-buku sekolah serta memenuhi kebutuhan lainnya. Lezza remaja yang kala itu sangat pintar membuat kue, masakan, dan aneka keterampilan tanpa malu-malu menjajakan kebolehannya kepada teman, keluarga, guru, dan lingkungan pergaulannya.

“Ya, tahu sendiri masa sekolah dan kuliah sulit. Makanya, bakat keterampilan saya manfaatkan berbisnis apa saja supaya punya uang tambahan,” ujar Lezza yang sejak remaja sering membuat aneka kue seperti nastar atau kastangel. Selain kue, ia juga sering membawa dagangan tantenya yang punya bisnis baju. Ketika itu ia tidak berpikir apakah baju itu bakal laku atau tidak. Yang penting ia bisa bawa baju dan menawarkan kepada teman-teman. Waktu itu ia coba membawa 20 baju, ternyata hanya tersisa delapan. Keberhasilan ini memotivasi dan menantang dirinya untuk punya usaha sendiri. “Kata teman-teman, saya adalah provokator ulung, tapi dalam arti positif. Kalau teman A punya barang tertentu minta tolong supaya saya membantu mempromosikan, pasti laku.”

Sewaktu masih bekerja di beberapa perusahaan ia pun masih sempat menekuni bisnis tas. Bekerja sama dengan dua perajin asal Tasikmalaya, ia menawarkan tas-tas cantik buatan tangan kepada kawan kantor dan teman-teman lainnya. Sayang krisis moneter membuat bisnis tas terhenti.

Selain masalah menambah uang saku, ada hal lain yang membuat si bungsu ini giat berbisnis sejak remaja. “Sejak kecil sampai sekarang saya selalu dianggap si ragil (bungsu). Makanya, keterampilan dan jiwa bisnis saya tunjukkan supaya saya tidak dianggap si bungsu yang manja. Walau nyatanya sampai sekarang saya tetap dipanggil si Ragil, toh saya bisa Mandiri. Ya, saya bahagia karena saya punya penghasilan tambahan yang bisa dibanggakan,” dalih anak ketiga pasangan Wahyu Hadiarto dan Mumu S. Pamujiarti ini.

Ibunya yang mengajar rias pengantin dan kepribadian di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Moeryati Soedibyo, sangat teliti serta tekun mengajari Lezza keterampilan.

Ia menganggap ibunya guru yang tak ternilai. Ia belajar soal artistik, kerapian, Ketelatenan, dan kesabaran dalam hal mendesain dari ibunya. “Rasanya hidup menjadi lengkap karena saya punya dasar banyak belajar dari Ibu untuk handicraft. Eh, ketika menikah saya diberi Tuhan suami yang selalu mendukung serta memotivasi saya. Suami saya lebih sabar, banyak membantu saya dalam menggeluti bisnis yang punya banyak kendala. Suami selalu menenangkan saya di kala panik.”

Senyum ibu dua anak ini selalu terkulum setiap menjawab soal modal yang dikeluarkan untuk bisnisnya. “Saya hanya bermodalkan semangat, kekokohan hati, serta ketekunan menyulap aneka kertas daur ulang Patista menjadi kotak kado cantik menarik,” katanya. Pada 1998, atas saran suaminya, ia membesarkan bisnisnya. Suaminya tak lupa mengucurkan Rp 5 juta untuk realisasi saran itu. Ia memiliki galeri sederhana di rumah orangtuanya, di Cipete Selatan, yang juga dipakai sebagai tempat memproduksi kotak kado.

Keunikan dan kekhasan kotak kado milik Lezza terletak pada kertasnya yang terbuat dari kertas khusus yang diramu sendiri. Namanya kertas Patista. Ini merupakan kertas buatan tangan dari serat khusus yang proses pembuatannya seperti membikin adonan resep kue. Bahan bakunya sangat langka, hanya ada dan bisa dikerjakan di Jerman. Kebetulan yang membuat kertas daur ulang dengan tekstur khusus beraneka warna adalah kakak iparnya yang sering bolak-balik ke Jerman.

Tadinya, karena kepolosan Lezza, ia sering menjual kertas daur ulang Patista kepada banyak orang. Tetapi, itu justru mereka manfaatkan untuk membuat kotak kado saingan yang mutunya lebih jelek.

Selain kertas Patista, hal lain yang membuat kotak kado milik Lezza banyak diincar adalah karena tampilan fisik atau rangka kotaknya yang lebih kokoh. Pelanggannya mengatakan, kualitas dan kekhasan kotak kado Lezza berbeda dengan tempat lain.

Obsesinya kini adalah punya toko sendiri. Namun, ia akan menggapainya perlahan, bila bersikap cepat tanpa berhati-hati ia takut, bahkan ngeri. Tawaran yang datang kepadanya untuk melakukan ekspor juga banyak. Kebetulan ada beberapa kawan yang tinggal di luar negeri suka pesan kotak, lalu dibawa ke Amerika Serikat, Australia, Jerman, Prancis, dan sebagainya. “Saya bilang, ya lihat saja nanti, saya belum ‘pede’,” katanya.

Ia meneguk keuntungan lain dari bisnisnya, yakni mulai memiliki kenalan kalangan selebritas seperti Anjasmara, Dian Nitami, dan Reza yang selalu memesan dan percaya pada keunggulan kotak miliknya. “Sekarang saya menjadi presenter acara masak-memasak Cobain Deh di ANTV. Mungkin ini peruntungan lain berkat bisnis kotak kado,” ujar penyuka warna hitam ini.

Selain itu, beberapa politikus, pejabat, dan instansi juga mempercayainya. Seperti tim sukses kampanye presiden Amien Rais yang memesan kotak kadonya sebagai hadiah tanda mata dan kenang-kenangan. Lalu, sebagai produsen tunggal yang rutin melayani pelanggan PT Amindoway Jaya untuk aneka boks dan tempat parsel produk-produk Amway Indonesia. Lezza pun dipercaya sebagai produsen tunggal rutin melayani pelanggan untuk kotak bingkisan Clairmot Cake & Bakery, Van Welly Cakes, dan beberapa toko bakery di Jakarta.

sumber : www.ciputraentrepreneurship.com

1 Komentar (+add yours?)

  1. Risky
    Des 05, 2010 @ 17:53:19

    bisnis Kotak-Kado memang lg bumingšŸ˜€

    http://www.boongkooz.com

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Top Rated

%d blogger menyukai ini: