Miniatur Clay


Cantiknya Miniatur Clay
UKURAN BOLEH MINI, TAPI HARGA TINGGI

Bentuknya mungil, lucu, dan memiliki detail yang rumit. Pastilah perlu keterampilan tangan dan kesabaran untuk membuatnya. Ya, miniatur clay memang cantik dan menarik untuk pemanis di ruangan. Jangan takut harga tinggi, Anda bisa membuatnya sendiri, kok.


Sebuah perpustakaan tampak nyaman dan hening. Jam dinding kuno berbandul logam menempel di sudut ruang. Berbaris-baris buku tersusun rapi dalam rak-rak kayu. Terdapat pula galeri lukisan mungil yang memajang karya-karya nan indah. Di luar perpustakaan, sebuah kebun bunga beratap dan berdinding kaca begitu memesona. Terlihat warna-warni bunga matahari, mawar, anggrek, tulip, teratai, adenium, hingga kaktus dalam pot-pot tanah.

Di sudut lain, tampak deretan gerobak yang menjual penganan tradisional. Mulai dari bakso, sate, tahu gejrot, bubur ayam, rujak, dan es durian. Ada pula warung lesehan berbentuk rumah panggung dari kayu yang menyuguhkan masakan khas Indonesia. Di atas meja bambu terhidang nasi dalam bakul, sambal ulek, lalapan, ayam bakar, oseng-oseng tauge, dan juga es kelapa muda. Sedap bukan?

Uniknya, Anda bisa memajang panorama itu di rumah Anda. Kok bisa? Tentu saja karena semua pemandangan tadi hanya bentuk miniatur.


Detail Besarnya nasi dalam satu bakul tak lebih dari setengah ruas jari kelingking. Sementara, tinggi gerobak bakso pun hanya sepuluh sentimeter. Begitu pula dengan perpustakaan, kebun bunga, dan galeri lukisan, luasnya tak lebih dari 20 x 15 sentimeter.

Pemandangan nan menarik itu terlihat di sebuah toko mungil berjuluk Little Things di dalam toko buku QB Plaza Semanggi, Jakarta. Memang mungil. Ya, semua barang tersebut tak lain adalah miniatur clay. Clay sendiri adalah semacam bahan yang menyerupai lilin, lembut, mudah dibentuk, dapat mengeras, mengering dengan sendirinya, dan bersifat nontoxin.
Seni membuat miniatur clay berasal dari negeri sakura dan masuk ke Indonesia sekitar lima tahun silam. Kini, toko-toko yang menjual beragam pernik miniatur clay mulai banyak ditemukan di ibukota.

SEDIAKAN PAKET KURSUS
Pemilik Little Things, Merry Surya Prakasa, menceritakan bisnisnya ini berawal dari hobi mengoleksi barang-barang miniatur sejak tahun 1984. Iseng-iseng Merry membeli buku panduan dan mencoba membuat sendiri di rumah. Bahan-bahan yang perlukan antara lain, clay, lem putih, cat minyak, pinset, resin, varnish, gunting kecil, kuas, dan pisau kecil.


Detail “Bahan baku clay ini, sebetulnya banyak sekali ragam dan kegunaannya. Ada yang teksturnya sangat lembut, mengandung banyak karet, harus di panggang dalam oven, ataupun berwarna-warni. Nah, saya memilih menggunakan produk Thailand yang serba guna. Harganya pun lebih terjangkau dibanding produk Jepang,” kata Merry menjelaskan.

Semakin lama, kreativitas Merry semakin terasah. Bila semula hanya membuat bentuk satuan, Merry mulai membuat miniatur dalam bentuk set yang ditaruh di boks mika atau frame kayu. Ada toko bunga, kamar tidur, kamar mandi, warung tradisional, pasar sayur mayur, troli supermarket, toko kain, restoran jepang, bahkan tempat fitness. “Jika sedang mood, dalam sehari saya bisa membuat hingga tiga set miniatur,” imbuh Merry.

Detail Merry menjelaskan, beberapa barang penunjang, seperti miniatur piring, tea set, keramik, atau perabot rumah tangga dari logam dan plastik, masih diimpor dari Thailand, Hongkong, Singapura, Taiwan, Jepang, Amerika dan Australia. Sementara, untuk bahan-bahan penunjang yang berbahan kayu dan rotan, “Saya menggunakan produk lokal. Saya bekerja sama dengan beberapa perajin di Bandung dan Tasikmalaya untuk membuat miniatur meja, kursi, keranjang, warung, gerobak, dan sebagainya.”

Khusus untuk miniatur produk-produk makanan dan minuman kemasan, Merri membuat sendiri dengan menggunakan kardus, alumunium, dan resin. “Saya beli produk aslinya, lalu difoto, dicetak perkecil dan dilipat-lipat sendiri agar tampak semirip mungkin dengan yang asli,” papar istri Ferry Salim yang baru tahun lalu memberanikan diri membuka toko.

Ternyata, kreasi ini banyak peminatnya. Bukan sekadar membeli, banyak pula yang ingin berkreasi sendiri. “Iya, makin banyak yang tertarik ingin belajar membuat miniatur clay. Saya pun membuka paket kursus di toko. Untuk satu jam pertemuan, biayanya Rp 35 ribu, sementara untuk empat jam biayanya Rp 110 ribu. Harga tersebut belum termasuk bahan clay yang bisa dibeli seharga Rp 59 ribu,” ungkap wanita berwajah jelita ini.

sumber :  nostalgia.tabloidnova.com

3 Komentar (+add yours?)

  1. risa
    Sep 02, 2010 @ 18:04:05

    mbak aku tertarik ma miniature..
    boleh aku minta no yang bisa di hubungin atau kirim email aja ke aku..
    aku pingin tau banyak
    jakarta ad ga?

    Balas

  2. Ilsye
    Feb 08, 2012 @ 10:20:52

    mba buka tempat kursus membuat miniatur makanan dr clay? Sy pengen ikut kursusnya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Top Rated

%d blogger menyukai ini: