Savitri Goeyardi, Pengkriya Paper Clay dan Paper Tole


Dapet lagi nih artikel papertool dan paperclay😛 semoga bisa menambah ilmu

Savitri Goeyardi, Pengkriya Paper Clay dan Paper Tole

Tertarik lantaran Ngluthus di Jepang

Savitri Goeyardi menghabiskan lebih dari separo umurnya untuk mengutak-atik clay. Dia bilang, pembuatan karya nan elok itu mudah. Yang sulit adalah mempertahankan ketekunan dan tetap berimajinasi.

WINDY GOESTIANA

KERAJINAN paper clay memang sudah banyak ”menyerbu” pusat perbelanjaan. Keindahan bentuk kriya itu mungkin pernah menghentikan langkah Anda di lorong-lorong mal. Misalnya, saat Anda melihat kecantikan maket dapur mini di sebuah etalase.

Ukurannya sangat imut. Tapi, bentuknya begitu mirip asli. Mulai meja kayu, keranjang sayur, hingga roti dan buah-buahannya. Semua itu tertata apik bersama vas bunganya. Detail. Apik.

Produk paper clay memang bisa dijumpai secara mudah. Tapi, perajinnya tak banyak. Di Surabaya, jumlahnya tak sampai belasan. Hal itu diungkapkan Savitri Goeyardi. Di antara perajin yang tak banyak itu, perempuan 54 tahun tersebut adalah salah satunya.

Sebagai orang yang menekuni bidang ”cukup langka”, totalitas Savitri terlihat di tempat kursusnya, di Pasar Atom. Dia tak pernah duduk-duduk santai. Kendati muridnya belum datang, jemari dan tatapan Savitri tak beralih dari benda mirip malam (lilin lunak untuk kerajinan) yang sedang dia tekan-tekan lembut. Seperti dipijat. Pijatan itu akhirnya membuat clay, benda lunak mirip malam tersebut, pipih.

Dalam bahasa Inggris, clay berarti tanah liat. Namun, tidak semua clay yang dipakai Savitri adalah hasil campuran tanah liat. Ada jenis clay empuk dan clay padat. Clay yang lebih empuk, kata dia, dicampur aneka tepung makanan dan bubur kertas. Kalau ingin lebih padat, barulah tanah liat ditambahkan. Kolaborasi antara kertas dan tanah liat itulah yang menghasilkan paper clay.

”Bentuk apa pun bisa kamu buat,” kata Savitri sambil menunjukkan bongkahan clay empuk di mejanya. Bahkan, untuk pemula, bentuk yang bisa dikreasikan tak terbatas. Ingin membuat biskuit, buah, roti, sampai bentuk wajah yang khas anak-anak, bisa. Bahkan mudah.

Kalau pernah membuat aneka bentuk dari malam, paper clay ya seperti itu. Tidak pakai teknik khusus untuk mengawalinya. ”Jangan merasa sulit dulu. Harus percaya. Ini kerajinan yang asyik. Sebab, kalau bentuknya belum sesuai, tinggal ulangi,” kata Savitri.

Bongkahan clay yang sudah disiapkan bisa dipilin sesuai selera. Jika bentuk sudah siap, clay tersebut dikeringkan. Pengeringannya tak perlu alat khusus, hanya diangin-anginkan. Setelah cukup kering dan lebih padat, baru dicat.

Perawatan clay tak perlu teknik khusus. Pantangannya hanya satu, clay harus jauh dari air. ”Namanya kertas, ya tetep aja kertas. Kena air ya penceng,” tegas perempuan yang fasih berbahasa Jepang itu lantas terkekeh.

Perkenalan Savitri dengan paper clay terjadi saat dirinya berada di Jepang. Ketika itu, Savitri masih 24 tahun. Ibu tiga anak tersebut menemani Siswono, suaminya, yang bertugas di Negeri Sakura itu. Tak ingin sia-sia di negeri orang, Savitri kerap berjalan-jalan sendiri. Dari aktivitasnya ngluthus itulah dia menemukan kerajinan paper clay.

”Begitu saya tahu namanya apa, saya langsung cari buku-bukunya. Saya beli clay-nya. Saya coba sendiri,” terangnya. Tak tanggung-tanggung, Savitri pulang dengan 40 petunjuk paper clay di kopernya.

Sampai di tanah air, perempuan kelahiran Surabaya, 20 Juni 1956, tersebut tak mandek. Dia begitu menggandrungi kerajinan asal London, Inggris, itu. Dia sempat bertanya kepada kerabat dan saudara apakah ada kursus paper clay di Surabaya. ”Ternyata ada. Di Pasar Atom. Cuma satu-satunya di Surabaya. Saya langsung daftar,” kenang Savitri lantas tersenyum.

Dari buku dan kursus itulah dia tahu bahwa jenis kerajinan kertas tak sebatas paper clay. Ada yang lain, yakni paper tole. Kendati sama-sama berbahan kertas, dua jenis kerajinan tersebut menghasilkan bentuk yang sangat berlainan. Kalau paper clay bisa dirupakan apa pun, paper tole tidak.

Paper tole adalah kertas yang ”ditumpuk” untuk membentuk kesan tiga dimensi. Menumpuknya tentu tidak asal tumpuk. Ada pola yang perlu diikuti agar hasilnya terlihat. Khusus paper tole, Savitri menyiapkan delapan kertas yang memiliki gambar sama. Gambar-gambar itulah yang digunting satu per satu lalu ditempelkan secara tumpuk.

Kunci berhasil tidaknya membuat paper tole ada pada guntingan dan lem yang dipakai. Untuk menciptakan kesan tumpuk, Savitri memerlukan lem yang tetap menggumpal ketika kering. Gumpalan itulah yang memberi jarak antara kertas yang satu dengan yang lain agar terlihat tumpuk dan menciptakan efek tiga dimensi. Karena itu, dia menggunakan lem untuk akuarium yang bisa mempertahankan gumpalan. ”Kalau pakai lem kertas, ya nempel kayak prangko. Nggak ada jaraknya,” tuturnya lalu tertawa.

Agar paper tole-nya lebih populer, Savitri tak hanya menggunakan gambar-gambar klasik. Belakangan, dia dan tiga anaknya mulai membuat paper tole dari foto. Untuk yang satu ini, kisaran harganya lebih murah daripada gambar klasik, sekitar Rp 200 ribu. ”Buatnya juga lebih gampang, kan nggak banyak detail,” ujarnya.

Meski menguras konsentrasi dan kadang tak tahan aroma clay yang menyengat, Savitri senang melakukan hobinya. Menurut dia, menciptakan warna-warni kerajinan seperti itu bukan sebuah pekerjaan. ”Kalau kerja, begitu saya nggak bisa bentuk yang ini, saya merasa gagal. Saya bisa saja nggak mau nyentuh clay lagi,” katanya.

Dia mengungkapkan, selama tiga puluh tahun mendalami kerajinan kertas itu, yang paling menopang dirinya adalah kreativitas. Bukan hanya soal memunculkan ide, tapi juga menyelesaikannya. ”Seni ini butuh ketelatenan. Kalau sudah mimpi pingin punya bentuk rumah-rumahan dari clay, ya harus keturutan. Nanti kan muncul sendiri solusinya. Biar gampang, enaknya bikin apanya dulu,” paparnya.

Kini, paper clay dan paper tole buatan Savitri sudah banyak menghiasi rumah pejabat. Bukan maksud memilih pelanggan, tapi kreasi kertas ini juga tidak murah. Harga satu paper clay yang dibentuk dapur mini bisa mencapai Rp 400 ribu. Meski, bahan baku lokalnya tak sampai Rp 40 ribu. Untuk paper tole, banderolnya lebih tinggi, sampai Rp 1,7 juta per buah.

Bagi Savitri, membicarakan paper clay tentu tak bisa dilepaskan dari bisnis kursusnya, Montelupo d’craft. Sampai lima tahun lalu, tempat kursus itu bisa ditemui di dua tempat. Yakni, Pasar Atom dan Tunjungan Plaza.

Di antara 749 muridnya, hampir separo menyenangi paper clay. ”Memang itu yang paling booming karena mudah,” tutur Savitri.

Bahkan, sudah banyak muridnya yang membuka toko suvenir seperti dirinya. Tidak merasa tersaingi, Savitri malah mengharapkan seluruh anak didiknya bisa mandiri. (*/dos)

sumber : Jawa Pos

7 Komentar (+add yours?)

  1. ria
    Sep 16, 2010 @ 18:16:04

    ibu Savitri, gmn mau beljr paper clay jarak jauh? apakah bisa beli paket2 paper clay utk anak2 sd-smp utk dpt sy jual kembali, berikan jg info paket paper tole, dan info paket apalagi lainnya yg punya nilai komersial tx, ria

    Balas

    • light24
      Nov 18, 2010 @ 16:22:08

      mbak Ria boleh mencoba untuk menghubungi Montelupo d’Craft/Montelupo Gift
      alamatnya :
      Pasar Atum Mall Lt.3, BB 77-78
      081.332.001186, 081.650.1255
      (031) 3539382, 7050 8883
      S U R A B A Y A

      Balas

  2. Andreas
    Des 10, 2010 @ 16:52:46

    wow….keren banget, sepertinya asyik juga ya….

    Balas

  3. wiwien
    Des 21, 2010 @ 08:44:42

    sy pengen banged belajar/ikutan kursus,,,boleh tau gag brp biaya kursus kerajinan paper clay dan paper tole..terimakasih

    Balas

  4. Windy Goestiana
    Jul 28, 2011 @ 21:17:11

    Saya Windy Goestiana, penulis berita itu. Terima kasih sudah tertarik membaca dan berkarya🙂 Senang bisa menginformasi

    Balas

  5. kiki
    Jun 12, 2012 @ 10:21:37

    saya pingin beli paper tole..dimana? thx

    Balas

  6. lia eunike sutanto
    Mar 24, 2014 @ 12:53:24

    wah tante savitri kemana ya?? dicari-cari di atum dan tp kok sudah pindah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Top Rated

%d blogger menyukai ini: